Sejak dibuatnya jalan Samota (Samawa,Moyo,Tambora), Tanjung Menangis merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi masyarakat lokal Sumbawa dikarenakan pemandangan yang disuguhkan benar-benar cantik. Berhubung jalan Samota belum selesai pengerjaannya ya lumayanlah setidaknya jalan menuju ke Tanjung Menangis untuk saat ini sebagian sudah berupa jalan aspal mulus sisanya ya masih ada sebagian yang masih berpasir, berbatu dicampur karang-karang. Oleh karena itu, orang-orang yang sudah mengabadikan foto disana bisa berbangga hati (termasuk aku dan suami. Hihihi) karena untuk menuju lokasi Tanjung Menangis tidak bisa dilalui dengan mobil, hanya bisa dilalui sepeda motor atau sepeda biasa dikarenakan kondisi jalannya itu. Sebenarnya jarak tempuh dari kota Sumbawa Besarnya sendiri ke Tanjung Menangis tidaklah jauh…mungkin tidak sampai setengah jam asal kondisi jalannya sudah mulus dari awal sampai akhir tujuan. Tapi realitanya berhubung jalan Samota masih belum selesai, kemarin aku pergi ramai-ramai dengan sepeda biasa, berangkat dari jam 6 pagi, menikmati keindahan alam disana ± ½ – 1 jam dan sampai ke rumah lagi jam 11 siang.

FB_IMG_1471597605235FB_IMG_1471597620516

Sesuai namanya, Tanjung Menangis merupakan tanjung yang berada di bagian timur pulau Sumbawa. Asal muasal nama Tanjung Menangis konon ada kaitannya dengan legenda rakyat Sumbawa yang dulunya tanjung ini merupakan tempat dimana putri Sultan Sumbawa menangisi kepergian pemuda yang dicintainya karena hubungan mereka tidak direstui oleh Sultan. Tidak seperti namanya yang terkesan sedih, pemandangan yang ada di Tanjung menangis dapat membuat orang-orang yang melihatnya berdecak kagum.

tanjung menangis3

FB_IMG_1471597633610
menikmati sunrise

Waktu berangkat, kita semua menikmati perjalanan dengan menghirup udara pagi, apalagi di jalan Samota kita disuguhkan pemandangan laut yang luar biasa indah dibarengi dengan sunrise. Perjalanan menuju ke Tanjung Menangis mulai terasa berat setelah jalan Samota yang mulus habis diganti dengan jalan tanah lalu lanjut dengan tanjakan-tanjakan berbatu karang. Pas melewati tanjakan-tanjakan berbatu inilah yang menuntut kita semua termasuk para cowok menuntun sepeda ditambah samping jalan sudah jurang yang hanya ada pembatas pohon-pohon saja. Sejak melewati jalan yang tidak rata, kita tidak bisa terus naik sepeda…kadang menuntun, kadang naik sepeda…tergantung situasi dan kemampuan masing-masing orang.

tanjung menangis2

Belum sampai ke lokasi Tanjung Menangis saja kita sudah bisa lihat pemandangan laut yang luas di depan kita dari ketinggian. Satu sisi capek melewati jalan-yang menantang satu sisi antusias ingin cepat sampai. Padahal aku sudah ingin menyerah untuk balik saja, takut nanti tenaga untuk kembalinya sudah tidak ada saking capeknya. Tapi suami terus menyemangati karena lokasi sudah dekat (aku baru tahu setelahnya ternyata suami juga asal ngomong saja).

Akhirnya sampai juga kita di lokasi dimana kita bisa melihat mercusuar dari kejauhan yang menunjukkan lokasi Tanjung Menangis berada. Dari lokasi ini kita sudah diharuskan untuk jalan kaki sampai mercusuar itu dan meninggalkan sepeda dengan digembok jadi 1 lebih dahulu. Tidak lucu kalau kita balik dari Tanjung Menangis mendapati sepeda-sepeda kita sudah hilang…bukannya hati senang yang didapat malah bisa menangis beneran. Hahaha

tanjung menangis4
mercusuar dilihat dari tempat dimana kita meninggalkan sepeda

Dari tempat kita meninggalkan sepeda sampai ke mercusuar ternyata tidaklah sejauh perkiraan kita…ya mungkin sekitar 10 menit. Tapi memang jalannya berbahaya kalau pakai sepeda ataupun sepeda motor, kita jalan kaki saja juga perlu hati-hati…kembali lagi ke pepatah ‘pelan-pelan asal selamat’. Hehehe

FB_IMG_1471597652247
mulai jalan kaki ke mercusuar

Setelah melewati berbagai medan jalan yang lumayan bervariasi, sampai juga kita di tujuan. Rasa takjub pertama kali yang aku rasakan…pemandangannya itu lho….cakeppp…Kita berada di pinggir tebing tanpa pembatas yang bisa lihat jernihnya laut dibawah kita itu…sampai-sampai terlihat batu-batu dan ikan dibawah laut sana. Hampir mirip wisata Tanah Lot/Uluwatu di Bali yang sama-sama menyajikan pemandangan laut dari tebing tinggi tapi versi Tanjung Menangis benar-benar masih alami, masih banyak tanaman dan pohon liar karena memang belum dikonsep seperti di yang Bali. Kalau dari versi tinggi tebingnya, Tanjung Menangis lebih rendah dibanding Tanah Lot/Uluwatu dan ombak di Tanjung Menangis jauh lebih tenang ketimbang yang di Bali yang cenderung keras deburan ombaknya.

tanjung menangis6

Tidak mau kalah dengan orang lain, kita semua memberanikan diri untuk naik ke atas mercusuar. Deg-degan juga naik turunnya di mercusuar karena memang tidak terbiasa tapi mantab sekali pemandangan dari atas mercusuar, kita bisa melihat pulau Moyo sekaligus gunung Rinjani yang ada di Lombok. Ditambah pas kita disana benar-benar tidak ada orang selain kita berlima….puas kita foto lama-lama di atas mercusuar tanpa harus ada orang mengantri.

FB_IMG_1471597672020

FB_IMG_1471597680343

tanjung menangis9

Bisa dibilang rute sepedaan kali ini, kita tanpa persiapan yang matang. Asal sebut saja mau ke Tanjung Menangis…karena itu kita kebanyakan cuma bawa bekal minum saja tanpa makanan berat. Makanan yang dibawa hanya cokelat dan kurma yang jumlahnya juga tidak banyak padahal sepedaan kita kali ini lumayan menguras tenaga.

Sinar matahari sudah lumayan menyengat, kita pun memutuskan pulang. Membayangkan jalan yang harus kita lalui apalagi naik sepeda rasanya mau ganti motor biar cepat sampai. Hahaha

tanjung menangis5
eksis dulu sebelum turun dari mercusuar

Perjalanan balik, apesnya aku jatuh dari sepeda karena memaksakan naik sepeda pas jalan menurun berbatu. Akhirnya ya merasakan tiduran diatas batu-batu dengan mulusnya. Untungnya tidak terkilir dan yang lecet hanya kaki saja, jadinya masih bisa melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan Samota pas sinar matahari menyengat lumayan membuat kami lelah. Mau mencari tempat berteduh, jarang ada pohon-pohon besar dipinggir jalan. Perjalanan balik ini kita sempat istirahat 2x yaitu di jalan Samotanya sempat ketemu 1 pohon besar dan di warung warga untuk beli minuman dingin.

tanjung menangis7

tanjung menangis8

Setelah melalui semua, ada rasa kapoknya untuk mengulanginya karena rasa capeknya, tapi yang pasti ada rasa bangga dan senangnya sudah sampai di Tanjung Menangis dengan sepeda. Ya next time seumpama mau kesana dengan sepeda lagi harus dengan bekal yang memadai dan lebih pagi berangkat supaya pas balik juga tidak terlalu panas.

Advertisements