Hari Sabtu tanggal 19 Maret 2016, aku & suami diajak salah satu teman kami yaitu Anton untuk mengunjungi pulau Bungin yang ada di kecamatan Alas, kabupaten Sumbawa, NTB dengan jarak ± 70 km dari kota Sumbawa Besar. Uniknya pulau Bungin, pulau ini termasuk pulau terpadat di dunia dengan luas pulau ±9 hektar dan jumlah penduduk ±4000 jiwa.

Mayoritas warga di pulau Bungin ini keturunan dari suku Bajo, Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai pengembara laut dan penyelam ulung sampai sekarang ini. Jadi tidak heran kalau suku Bajo tidak cuma ada di Sulawesi tapi ada juga di beberapa provinsi di Indonesia. Bertambahnya jumlah penduduk suku Bajo di pulau Bungin menyebabkan semakin sempitnya lahan. Oleh karena itu perluasan lahan juga dilakukan dengan cara mereklamasi pulau dengan menguruk lautan dengan karang. Rata-rata rumah yang ada disini bermodel rumah panggung yang aslinya dulu rumah diatas laut yang sampai sekarang pun masih terus ditiru meski dibawah rumah sudah berupa daratan hasil reklamasi.

Dari jalan utama Sumbawa Besar-Alas, belok ke kanan sebelah masjid Darussalam. Mulai jalan ini, jalanannya belum beraspal jadi lumayan kalau untuk bikin bangunin orang tidur. Terus saja sampai ketemu gapura selamat datang di desa Gontar ( kalau ga salah ya), ambil jalan ke kanan jangan yang lurus. Ikutin terus jalannya hingga sampai ke pulau Bungin. Akses jalan ke pulau Bungin ini pun juga hasil reklamasi yang baru dibuat tahun 2003-2004…karena dulu kalau mau ke pulau Bungin harus menyeberang pakai sampan/perahu. Jalan hasil reklamasi ini cukup untuk dilalui mobil tapi sudah ada beberapa spot pinggir jalannya yang mulai mengalami longsor.

Sampainya kita di pulau Bungin ditandai dengan jalan yang cukup lebar sebelum gapura selamat datang. Setelah gapura ada museum nelayan yang berada di sebelah kiri jalan dimana kita nantinya parkir mobil. Hawa udara di Bungin sudah bisa ditebak panas sekali…ditambah hanya ada laut dan rumah pemukiman penduduk, tidak terlihat adanya pepohonan.

bungin3

bungin7

Sebelum kita benar-benar menjelajah pulau ini, kita mampir ke warung seberang museum atau warung pertama setelah gapura. Di warungnya pak Abdul dan ibu Saharani ini kita mencicipi air sambal khas Bungin yang biasa dimakan dengan kerupuk. Yang membedakan air sambal khas Bungin ini dibanding yang lain, air sambal khas Bungin ga pakai saos tomat seperti air sambal yang biasa dipakai untuk makan jajanan jalan kotek orang Sumbawa pada umumnya tapi berwarna bening dengan rasa pedas, asin dan asam dari jeruk nipis.

bungin10

bungin

Ga kerasa kita ber 7 makan kerupuk hampir menghabiskan 10 bungkus kerupuk sendiri dengan 2 cobek sambal…satunya sambal terasi, satunya air sambal. Cuaca yang lumayan panas sudah membuat kita gerah dan berkeringat ditambah makan yang pedas…tapi rasa pedasnya bikin kita mau makan terus..pokoknya mak nyosss!! Setelah cukup kenyang makan kerupuk dan melepas dahaga minum es, mulailah kita jalan kaki memasuki pemukiman Bungin yang sebenarnya, menuju rumah Arif, penduduk asli Bungin yang merupakan salah satu dari teman kita yang ikut berangkat dari Sumbawa Besar.

Menuju rumah Arif, kita bisa melihat secara langsung nuansa kehidupan di Bungin kesehariannya. Jarak antar rumah sangat dekat satu sama lain. Saking padatnya, orang-orang yang belum terbiasa dengan jalan di Bungin sangat besar kemungkinannya bisa tersesat kalau ga tanya-tanya arah jalan. Pernah suatu waktu, di tengah malam ada maling yang mau mencuri kambing di tengah-tengah pemukiman warga dengan meninggalkan motornya di luar pemukiman. Maling itu berakhir dengan babak belur dipukul warga karena dia tidak tahu jalan keluar menuju motornya.

bungin2

Di tengah padatnya rumah warga, terlihat banyak kambing berkeliaran di jalan. Hal ini mungkin yang menyebabkan jarang adanya tumbuhan…ada tumbuhan pun dikasih pagar kayu supaya tidak dimakan sama kambing…sampai-sampai aku lihat beberapa kambing makan kardus! Ya benar..kardus! Tapi warga melihat itu wajar, terbukti kambingnya juga sehat-sehat saja sampai sekarang.

Ada beberapa jalan yang sudah diconblock, sisanya masih berbatu dan berpasir. Jalan di tengah pemukiman bisa dilewati 1 mobil dan 1 arah saja. Memang benar adanya rata-rata rumah disana berbentuk rumah panggung…tapi ada beberapa rumah panggung yang sudah dibangun diatas tanah, bagian bawahnya dimanfaatin untuk jualan/toko.

Mata pencaharian masyarakat Bungin hampir seluruhnya berhubungan dengan laut ntah itu dengan budidaya ikan di keramba atau menangkap ikan langsung di laut pakai perahu. Karena itu tidak heran kalau melihat aktifitas warga yang sedang membuat perahu yang biasa dibuat untuk melaut. Tidak usah orang dewasa, anak-anak kecil saja sudah terbiasa berenang mencari ikan-ikan kecil di lautan.

Setelah beberapa saat bertamu di rumah Arif dan matahari sudah tidak terlalu terik, kita diajak menyeberang ke keramba milik beberapa warga Bungin yang membudidayakan ikan seperti kerapu dan lobster. Perintis ide budidaya ikan dalam keramba ini adalah peran dari salah satu pemuda sana yaitu Tison bekerja sama dengan pemerintah daerah. Bisa dibilang budidaya ikan dalam keramba ini sudah menjadi peranan penting yang menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat Bungin sendiri dan akan terus berkembang dengan semakin banyaknya peminat. Sejauh ini penjualan ikan-ikan hasil keramba habis dibeli oleh orang-orang yang datang langsung ke Bungin. Beda dengan hasil tangkapan ikan di laut yang biasa dijual di luar Bungin.

bungin6

bungin9

Suasana di keramba beda banget sama di darat yang cenderung lebih menyegarkan dengan adanya angin berhembus sepoi-sepoi. Ada beberapa aktifitas pemuda yang terlihat waktu kita disana. Mereka sedang menjaring ikan-ikan di salah satu keramba untuk dipisah-pisahkan antara ikan besar dan kecil. Selain itu juga ada beberapa warga yang hanya sekedar refreshing dikeramba seperti yang kita lakukan selama disana.

Kita benar-benar enjoy selama di keramba…melihat aktifitas warga di keramba yang jarang aku lihat, matahari yang mulai tenggelam, suasana yang tenang dan diakhiri nongkrong dan ngobrol bareng sampai gelap.

bungin4

bungin5

Akhirnya mau tidak mau kita harus kembali ke darat lagi karena kita tidak mau balik ke Sumbawa Besar terlalu malam. Di rumah Arif, kita semua sudah dinanti untuk dijamu makan malam ikan bakar, sayur, sambal dan nasi hangat. Setelah kenyang pun kita masih ditahan untuk jangan cepat pulang dengan dibuatkannya kopi. Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, dengan berat hati kita harus balik. Keramahtamahan warga Bungin tidak perlu diragukan lagi apalagi bagiku dan suami yang baru pertama kali berkunjung…mereka seperti menjamu keluarga sendiri bukan orang asing.

Advertisements