Untuk menemukan lokasi desa Penglipuran cukup mudah dengan aplikasi tripadvisor dan selama perjalanan menuju kesana ada beberapa papan petunjuk yang terlihat. Jadi kemungkinan besar tidak bakal kesasar. Biaya masuk ke desa Penglipuran dikenakan 62 ribu untuk ber 4 termasuk biaya parkir mobil.

Dari berbagai sumber yang aku baca…menurut sejarah, desa Penglipuran ini berasal kata Pengeling Pura yang berarti tempat suci yang ditujukan untuk mengenang para leluhur. Selain itu berasal dari kata penglipur yang berarti penghibur karena pada jaman dulu desa ini sering dikunjungi oleh keluarga-keluarga kerajaan untuk menghibur diri karena suasana alamnya yang indah dan damai. Desa Penglipuran ini termasuk desa yang sering melakukan ritual keagamaan dan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Desa ini pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah dan juga ditetapkan pula sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah di tahun 1995.

penglipuran2

Ciri khas yang sangat menonjol dari desa Penglipuran ini adalah arsitektur bangunan tradisional di desa ini rata-rata memiliki arsitektur yang sama persis dari ujung desa ke ujung lainnya dengan kesimetrisan yang amat tertata rapi antara 1 rumah dengan rumah lainnya.

Untuk menikmati desa Penglipuran, para wisatawan tidak diperbolehkan membawa kendaraan masuk ke wilayah desa. Semua kendaraan wajib diparkir di lahan yang sudah disediakan. Jadi untuk memasuki wilayah desa Penglipuran, para wisatawan hanya boleh berjalan kaki saja.

penglipuran

Desa Penglipuran menurutku memang cocok dijadikan salah satu contoh desa adat untuk ditiru desa-desa lain yang ada di Indonesia. Tapi tentu saja dengan keunikan adat daerah masing-masing desa itu sendiri. Apalagi kalau bisa dikemas sebagai tujuan wisata juga seperti desa Penglipuran yang bernuansa asri dan nyaman…dengan tata bangunan khas Bali setiap rumahnya, berjejer rapi, penduduknya ramah, jauh dari kesan hiruk pikuk keramaian seperti wisata di Bali pada umumnya. Coba kemarin kita datangnya pas ada perayaan adat Bali…pasti lebih menarik dan meriah lagi. Satu lagi yang bikin kagum lagi ya…selama menyusuri jalan di desa, tidak satu pun aku lihat sampah dibuang sembarangan…benar-benar bersih. Lain daripada yang lain…tidak seperti wisata-wisata yang ada di Indonesia yang cenderung banyak sampah berserakan. Siapa tahu ke depannya banyak desa-desa ala ‘Penglipuran’ yang lain bermunculan di Indonesia…makin banyak lagi nilai jual wisata Indonesia bagi wisatawan mancanegara maupun lokal.

penglipuran3

Setelah puas menyusuri desa Penglipuran, kita pergi isi perut dulu di Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku di daerah Ubud. Lalu kita menuju ke di Pop! Hotel Nusa Dua untuk check in. Kita sempat istirahat dulu sebentar di hotel dan mandi, sebelum akhirnya kita cari tempat makan malam. Kita memutuskan makan malam di Bumbu Bali daerah Nusa Dua setelah kita searching tempat makan dekat Nusa Dua dan review di tripadvisornya banyak.

Advertisements