Akhirnya tiba juga yang dinanti-nanti yaitu trekking Gunung Batur yang bagiku bikin penasaran dan deg-degan. Jam setengah 3 subuh alarm kami bunyi…mata masih sayup-sayup antara bangun dan tidur lagi…tapi mau tidak mau kita harus siap-siap untuk persiapan trekking. Persiapan kita cuma cuci muka, sikat gigi, buang air kecil dan pakai  perlengkapan trekking seperti celana panjang, jaket, sepatu atau sandal gunung. Habis itu langsung menuju ke lokasi posko Pura Jati untuk ketemuan sama guide kita si Mupu. Di sana sudah ada beberapa mobil juga yang bawa wisatawan-wisatawan lain yang mau trekking ke Batur juga. Sampai posko, Mupu bagi-bagi senter yang bakal dipakai kita per orangan. Setelah itu tanpa basa basi, mulailah perjalanan kita trekking jam 3.15 subuh. Mobil ditinggal di parkiran posko, jadi kita mulai jalan kaki dari posko. Kebanyakan turis-turis terutama bule, start trekking jam 4 subuh. Karena ya tahu sendiri energi mereka seakan-akan 2x lipatnya orang asia. Mereka cuma butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk mendaki sampai puncak. Beda sama kita-kita ini yang maunya jalan santai dan mengingat fisik kita yang tidak pernah olahraga plus faktor ‘u’. Hehehe  Karena itu sengaja kita mulai perjalanan kita lebih awal.

Awal-awal perjalanan melewati beberapa rumah penduduk yang meliputi jalan berpasir dan beraspal. Yap…benar, kalian tidak salah baca..ASPAL…waktu kita ngos-ngosan kehabisan nafas ditengah jalan karena jalannya menanjak terus, ada beberapa orang yang dengan enaknya pakai motor dan mobil menuju pemberhentian pertama sebelum mendaki ke puncak 1. Rasanya mau ikutttt….hwaaa….Masalahku ada di nafas yang pendek, bagi Shieny masalah kaki…sedangkan bagi ci Yulia dan suami biasa saja. Terlihat mereka meski capek tapi tetap jalan terus. Aku dan Shieny perlu berhenti-berhenti untuk menyiapkan tenaga dan nafas. Di pemberhentian sebelum pendakian puncak, terdapat pura yang biasa untuk para guide beragama Hindu sebelum mendaki, sembahyang dulu. Waktu ini kita gunakan untuk benar-benar tarik napas dan istirahat dulu sambil menunggu si Mupu sembahyang. Oiya, guide kita si Mupu ini masih muda lho…belum ada umur 20 tahun. Tapi fisiknya jangan ditanya…Sama sekali tidak kelihatan capeknya selama perjalanan pulang pergi…malah cenderung santai apalagi mengikuti ritme jalanku yang super santai. Mungkin bagi mereka biasa, bagi kita luar biasa. Salutt!

Dimulailah perjalanan kita ke puncak 1 dimana jalannya menanjak dibanding sebelumnya, medannya berbatu dan berpasir. Aku lebih kuat jalan disini ketimbang jalan sebelumnya…karena disini mulai beriritan jalannya dengan wisatawan lain. Tidak bisa asal salip saja. Jadi ada jeda untuk tarik nafas sambil tunggu giliran jalan. Beda dengan Shieny yang kakinya masih terasa lemas dan sudah mau pingsan rasanya. Tapi berkat dorongan dan semangat dari si guide Mupu dan kita semua…akhirnya kita bisa juga sampai di Puncak 1 jam 5 lebih sedikit sebelum sunrise…Yeyyy!!

Banyak bule-bule yang lanjut perjalanan ke puncak 2, tapi kita memutuskan untuk di puncak 1 saja karena waktu untuk sunrise sudah semakin dekat sedangkan perjalanan ke puncak 2 dari puncak 1 membutuhkan waktu sekitar 50 menitan (ukuran standar). Untuk menunggu sunrise, kita menunggu di ruangan (gubuk/ rumah?) yang biasa para guide buat sarapan dan minuman untuk para tamunya. Kalau menunggu di luar, tidak tahan sama dinginnya. Lumayan hangat berada di dalam sambil menunggu sunrise. Shieny manfaatkan waktu untuk tidur, sedangkan kita bertiga menghangatkan diri dengan beli teh yang harganya dipatok 20 ribu per gelas!! Suami sampai shock juga waktu mau bayar…padahal sudah ditanya 2x harganya benar segitu apa salah? Tapi tetap saja si penjual tidak bilang apa-apa dan menunggu kita bayar. Mau tidak mau ya bayar karena sudah dibuatkan dan diminum. Salahnya kita juga sih tidak tanya dulu sebelum pesan…asal pesan dan minum langsung. Hehehe Setelahnya kita baru tahu dari Mupu kalau standarnya 20 ribu tuh sudah dapat teh dan pop mie untuk orang domestik lokal. Kemungkinan besar kita disangka wisatawan dari Singapore. Hadehhh…Capee deehhh….

Penantian kita untuk melihat sunrise ternyata sedikit mengecewakan karena hari itu cuaca berkabut. Matahari cuma nongol sebentar, itu saja diselimuti kabut tebal. Untung kita cuma sampai puncak 1 saja. Kita tunggu sampai jam 7an, tetap tidak kelihatan mataharinya. Akhirnya banyak wisatawan memutuskan untuk turun…kita pun ikut turun juga. Perjalanan turun tidak terlalu cepat karena selain mengantri juga harus hati-hati karena takut terpleset mengingat jalannya berbatu dan berpasir. Meski sudah hati-hati, ada beberapa wisatawan yang terpleset juga termasuk ci Yulia sendiri. Selain itu suami juga sempat mengalami kram kaki tapi untungnya sudah dekat sama posko.

gn batur
Sunrise di Puncak 1. Sayangnya berkabut

gn batur3

gn batur 4

gn batur2

Akhirnya kita balik sampai posko lagi jam 9. Parkirannya full banget dengan mobil ketimbang tadi pas kita berangkat subuh. Mungkin karena kita berangkatnya jauh lebih awal dari wisatawan lain. Setelah trekking, suami lanjut mandi air panas di Toya Devasya yang per orang dikenakan biaya 150 ribu. Biasa sih memang wisatawan-wisatawan yang habis trekking, lanjut mandi air panas biar badan terasa segar lagi. Tapi kita bertiga para cewek, pilih balik ke hotel lagi untuk segera mandi dan istirahat sebentar sebelum cek out hotel. Air panas di Toya Devasya dari cerita suami sepertinya enak. Badan pegal-pegal lumayan berkurang setelah berendam air panas, badan juga terasa segar ditambah pemandangan sekitarnya juga bagus.

gn batur5

Kita check out dari hotel jam 11 siang setelah sempat istirahat sebentar dan beres-beres semua bawaan kita. Tanpa makan siang dulu, kita langsung menuju ke wisata selanjutnya yaitu desa Penglipuran di daerah Bangli karena memang sejalan sama perjalanan balik kita ke arah Denpasar.

 

Advertisements