Hari keempat di Bali, akhirnya temanku si Shieny dan ci Yulia datang. Kita jemput mereka di bandara jam 9.30 pagi sekalian kita cek out dari hotel. Langsung dari bandara kita jalan menuju daerah Kintamani. Sebelumnya kita sempatin dulu kuliner babi guling (bigul) di Ibu Oka sebelah Ubud Palace dan Naughty Nuri’s. Enaknya kuliner rame-rame, sekali makan, icip-icipnya bisa banyak.

Sampai di daerah Kintamani, kita menuju ke Toya Bungkah (trekking gunung Batur). Sebenarnya kita maunya trekking start dari Toya bungkah tapiiii….ternyata kita bayarnya trekking start dari Pura Jati konon jalannya lebih menanjak. Karena dari Kintamani menuju ke Toya Bungkah, lewat Pura Jati dulu. Nah, kita fokusnya cari posko trekkingnya dulu sebelum cari hotel sekalian bayar guide…dan kita ketemu posko trekkingnya di Pura Jati duluan. Setelah itu kita ditunjukkin hotel untuk kita menginap semalam oleh guidenya di daerah Toya Bungkah. Ini saja kita masih belum sadar kalau kita besok startnya dari Pura Jati, baru tahu malamnya diberitahu sama orang hotelnya yang bilang kalau Posko trekking Toya Bungkah tidak jauh dari hotel. Hahaha Ya sutralah, namanya juga pengalaman pertama plus habis itu tambah deg-degan bayangin medannya yang cenderung banyak menanjak.

Biaya kita berempat total untuk trekking gunung Batur via Pura Jati kena 400 ribu dan ini biaya juga tidak tahu resmi apa tidak. Aku cuma cari info via internet saja kalau biaya guide sekitar 350-400 ribu karena memang di poskonya sendiri tidak ada harga resmi yang tercantum. Akhirnya kita deal, bayar lunas dan dikenalin sekalian sama guide yang bakal menemani kita besok selama trekking namanya Mupu. Mupu juga yang mencarikan hotel untuk kita bermalam yang tidak terlalu mahal. Akhirnya dapat diharga 350 ribu 1 kamar per malam untuk berempat karena mengingat kita tidurnya juga cuma sebentar saja.

Waktu menunjukkan jam 3, masih sore untuk kita istirahat. Kita iseng-iseng menuju ke desa yang biasa untuk menyebrang ke Trunyan..mungkin sekitar setengah jam dari hotel. Siapa tahu kita masih ada kesempatan untuk menyebrang. Menuju ke arah Trunyan, kita ternyata ditunggu dan dikuntit sama ojek yang sempat kita temuin di daerah Kintamani untuk tanya jalan menuju Trunyan. Kita pikir si ojek sudah tidak mengikuti mobil kita waktu jalan menuju ke arah Toya Bungkah, ternyata dia terus menunggu kita di pertigaan antara Toya Bungkah dan Trunyan. Jalan menuju penyeberangan lumayan sempit dan naik turun. Untungnya sih jalannya sepi, cuma papasan sama beberapa motor. Kalau sampai berpapasan dengan mobil, tidak bisa membayangkan cara melewatinya bagaimana.

Sampai di lokasi, ada 1 mobil isi rombongan anak muda berenam dari Bogor yang mau menyeberang juga ke Trunyan juga tapi belum nego harganya. Disana seperti biasa tidak ada loket resminya, cuma ada beberapa orang yang salah satunya ojek yang menguntit kita untuk nego harga. Mumpung ada rombongan lain yang mau menyeberang juga, coba-coba untuk join kapal…siapa tahu bisa lebih murah…Akhirnya disepakati harga untuk menyeberang kita berempat 500 ribu dan rombongan anak muda ber 6 kena 600 ribu.

Kita pakai 1 kapal untuk ber 10. Kapalnya dikayuh oleh 2 orang, pelan tapi pasti sampai. Selama perjalanan kita disuguhkan oleh pemandangan Gunung Batur. Perjalanan menyeberang membutuhkan waktu sekitar 10-20 menit. Baru tahu ternyata ternyata desa Trunyan sendiri dan lokasi pohon untuk meletakkan mayat-mayat itu beda lokasi.

perahu trunyan

Tiba di lokasi, kita disambut dengan tulisan ‘welcome to kuburan Terunyan’…ternyata ga seperti bayangan kami sebelumnya. Kita bayangannya pohon untuk taruh mayat-mayatnya ada banyak ternyata cuma ada 1 pohon besar disana yang bernama pohon Taru Menyan yang merupakan asal kata Trunyan yang berarti pohon wangi. Cuma masyarakat desa Trunyan saja yang di Bali yang menguburkan mayatnya hanya di letakkan di dekat pohon Taru Menyan ini (orang-orang yang meninggal secara normal dan wajar). Mayat-mayat yang masih baru (belum terlalu rusak), dibuatkan ‘ancak saji’ yaitu anyaman bambu berbentuk segitiga sama kaki. Di sinilah jenazah diletakkan begitu saja, diselimuti kain putih (seperti yang aku lihat kemarin) tanpa sedikit pun tercium bau bangkai. Di sekitarnya terdapat benda-benda peninggalan si jenazah seperti berupa piring, foto berpigura, sapu tangan, baju, uang dan perhiasan. Sedangkan mayat-mayat yang sudah rusak, tengkorak-tengkoraknya dibuat berjejer-jejer di dekat pohon dan sisa-sisa tulang lainnya dikumpulkan jadi satu bersama barang-barang peninggalannya. Sebenarnya kita boleh foto-foto sambil bawa tengkorak-tengkorak yang ada disana, tapi takutnya nanti ada yang ikut kita pulang. Hiiii….

trunyann

trunyan2
ancak saji, untuk mayat-mayat yang masih baru

pohon taru menyan

trunyan3

trunyan4

Jujur, kuburan Trunyan ini seperti tidak terurus…tumpukan tulang-tulang yang sudah rusak dan barang-barang peninggalannya terkesan seperti tumpukan sampah. Kita semua juga merasa lebih menikmati pemandangan danau dan Gunung Baturnya daripada kuburannya itu sendiri. Sayang sekali jika diteruskan begini karena dari yang aku baca review-review di internet, banyak yang bilang kecewa dan ga worth it. Padahal adat pemakaman Trunyan ini merupakan satu-satunya di Indonesia mungkin juga di dunia yang wajib dilestarikan dan dapat menjadi salah satu pengetahuan dan objek yang menarik bagi para turis domestik maupun asing. Semoga ke depannya pemerintah dapat membuat konsep wisata Trunyan ini lebih professional tanpa mengurangi nilai adat budaya itu sendiri.

trunyan5

Langit sudah mulai gelap dan kita memutuskan balik ke hotel tapi sebelumnya kita makan malam dulu di dekat-dekat hotel habis 140 ribu untuk berempat makan mie goreng dan mie kuah.

Advertisements