Tanggal 9 Agustus 2015 adalah dimana aku harus balik ke Sumbawa lagi setelah tinggal di lama di Yogya ± 6 bulan. Sebelum benar-benar balik ke Sumbawa, aku dan suami memutuskan berlibur seminggu di Bali dulu untuk refreshing berdua. Hihihi

Liburan ke Bali kali ini ada sahabat SMU ku yang ikut yaitu Shieny. Dia juga bawa 1 teman lagi yang aku dan suami juga baru kenal yaitu ci Yulia…jadi total kita berempat. Tapi mereka datang ke Bali nya dari tgl 12 nya. Jadi aku dan suami memulai dulu mencicipi indahnya pulau Dewata ini. Okelah…kita langsung mulai aja perjalanan kita yukkk…

Naik pesawat Lion dari Yogya jam 7.25 WIB sampai Bali jam 9.40 WITA. Sengaja pilih penerbangan pagi karena tidak mau rugi mainnya dan biasa kalau pagi, Lion jarang delay. Sampai di Bali, kita langsung cari taksi Bluebird di area keberangkatan domestik karena biasa taksi bandara tidak mau pakai argo dan jatuhnya mahal.

Dari bandara langsung deh kita menuju ke Sanur yang memang untuk penyebrangan ke Nusa Lembongan, Ceningan dan Penida. Berhubung daerah Sanur luas, kalian yang pergi pakai transport sendiri tanpa taksi, bisa pakai pakai GPS atau aplikasi lain cari kuliner Mak Beng (yang terkenal sop ikannya).

Sopir taksi kasih saran harus beli tiket boatnya dulu karena takut kalau pas ramai bisa tidak dapat tiket. Kita turun di salah satu agen tiket boat. Kita memutuskan untuk beli tiket fast boat pulang pergi. Per orang kita kenanya 250 ribu. Aku juga kurang tahu nih resminya harga tiket domestik tuh berapa…karena antara harga yang tertera di spanduk dan yang dibayar bisa beda. Mungkin tergantung agennya kali ya…

 

jadwal kapal
Fast boat hanya membutuhkan waktu setengah jam saja untuk menyebrang ke Nusa Lembongan. Sedangkan slow boat butuh sekitar 2 jam. Fast boat dibawah inilah yang membawa kita dan turis lain ke Nusa Lembongan via Mushroom Bay.
 kapal lembongan
Di Nusa Lembongan sendiri sebenarnya ada 2 dermaga untuk penyebrangan yaitu di Mushroom Bay dan Jungut Batu. Biasa hotel-hotel ada di daerah Jungut Batu. Tapi turun di Mushroom Bay pun lokasinya tidak terlalu jauh dari Jungut Batu…kurang lebih 10 menit pakai motor.
peta lembongan
Sumbernya disini

Transportasi yang tersedia di Nusa Lembongan untuk para turis paling banyak pakai motor. Kemarin kita sewa motor untuk 2 hari full tank…pertamanya dikasih harga 160 ribu tapi setelah tawar menawar jatuhnya 130 ribu. Yaa…tergantung pintar-pintarnya kita yang tawar menawar dan mengakrabkan diri sama penyewa motornya…hahaha

Dan sialnya, kita dapat motor yang shockbreakernya mati dan gasnya pendek…jadi kerasa banget kalau pas kena lubang, pantat jadi korban…apalagi sebagian besar memang jalannya tidak mulus. Apalagi motornya kalau dipakai pas jalannya lumayan menanjak, yang bonceng harus turun (alias aku yang harus jalan kaki). Tapi untung penyewanya baik, mau tukar motor kita di hari ke 2 kita disana.

Selain motor, para turis bisa pakai transportasi sepeda, angkutan umum (mobil pick up yang dimodifikasi belakangnya jadi tempat duduk penumpang) atau mobil golf. Tp menurutku, paling enak pakai motor karena selain fleksibel dan tidak makan tempat. Kita sudah booking penginapan 2 malam di Pondok Jenggala daerah Jungut Batu. Kuliner pertama kita di Bali Eco Deli.

Wisata di hari pertama kita di Nusa Lembongan, kita ke Dream beach dan Devil Tears. Dream Beach layaknya pantai kebanyakan yang disukai bule-bule di Indonesia. Pantai berpasir putih yang bisa untuk berjemur, air laut yang jernih dan ombak ga terlalu besar untuk bisa berenang. Waktu kesana, pantainya padat banget sama bule-bule yang baru berjemur maupun renang apalagi luas pantainya tidak terlalu besar. Foto Dream Beach dibawah yang aku kutip dari sini waktu keadaan pantainya sepi…tidak seperti waktu kita pas kesana.

dream beach
Lokasi Devil Tears tidak jauh dari Dream Beach. Devil tears lokasi wisata tebing dengan dihiasi deburan ombak. Kalau beruntung kita bisa foto dengan deburan ombak yang menjulang tinggi di belakang kita. Tapi harus ekstra sabar dan hati-hati karena kita sempat diberi saran kalau mau foto di Devil Tears jangan terlalu ke pinggir tebing karena memang ga ada pagar dan pengamannya ditambah ada beberapa bagian yang licin. Sudah banyak terjadi kecelakaan disana. Tapi kembali lagi ke kemantapan kita masing-masing. Kita sih pilih amannya saja, foto ga terlalu dekat dan bukan pas ombak menjulang tinggi. Karena sampai di lokasinya, tempat kita berpijak tuh batu-batuan yang tajam-tajam dan ombaknya kalau pas menjulang tinggi…seram juga…hahahha

devil tears

 

devil tears2

Perjalanan balik ke hotel, kita mampir makan malam di Panorama Bar dan Restaurant.
Memasuki hari ke 2, kita rencana mau ke Nusa Penida…sebelumnya kita cari-cari info dulu bagaimana cara menyeberang kesana dengan cara yang tentu saja praktis dan ekonomis. Kita pertama ke dermaga di Jungut Batu…ada orang lokal baik yang beritahu kita kalau mau menyeberang ke Nusa Penida lebih murah via kapal yang ada di jembatan kuning menuju ke Nusa Ceningan…bisa selisih 100 ribu sendiri. Akhinya kita memutuskan mau menyeberang via kapal di jembatan kuning. Tapi sebelumnya kita mampir dulu ke Underground House atau yang biasa orang lokal sebut Gala-gala karena sejalan dengan perjalanan kita menuju ke jembatan kuning. Kalau mau masuk ke lokasi Underground House, kita harus membayar 10 ribu per orang untuk biaya pemeliharaan dan listrik. Tidak ada loket resmi sih…bayar sama penjaga yang ada disana. Underground House ini menurut cerita penduduk setempat dibangun oleh 1 orang tua bernama Mangku Byasa yang berumur 75 tahun selama hampir 15 tahun (tahun 1961 – 1976) dan hebatnya lagi, dilakukan sendirian! Bayangin saja pada tahun itu belum ada alat-alat canggih seperti sekarang, apalagi tanah yang digali berupa material batu kapur. Mangku Byasa yang berprofesi selain sebagai petani juga seorang pertapa Hindu ini terinspirasi dari kisah Mahabarata saat Pandawa melarikan diri dari Korawa dengan membangun rumah di bawah tanah ….Rumah Gala-gala ini setauku ada 3 pintu menuju ke bawah, terserah mau masuk atau keluar lewat mana..luas bawah tanahnya sih tidak terlalu besar. Kalau mau menyusurinya, sudah ada lampu-lampu yang dipasang untuk memandu para turis. Jadi ikutin saja lampu-lampu disana, dijamin tidak bakal tersesat. Suasana di bawah menurutku bukan seperti rumah, tapi lebih ke nuansa lorong-lorong batu. Lorong-lorongnya tidak terlalu besar. Tidak bisa dibuat jalan berdua berdampingan, harus depan belakang. Meski begitu diantara lorong-lorong itu  ada ruang-ruang yang difungsikan sebagai ruang tidur, ruang makan dan ruang tengah dengan kursi yang semuanya di pahat kasar dari batu yang ada di dalam tanah.
gua
underground house
Advertisements